Thu. Sep 22nd, 2022

    Sirih yang bernama latin Piper betle, Linn termasuk dalam famili Piperaceae. Sirih termasuk jenis  tumbuhan merambat dan bersandar pada batang pohon lain. Tanaman ini panjangnya mampu  mencapai puluhan meter. Bentuk daunnya pipih menyerupai jantung dan tangkainya agak panjang. Permukaan daun berwarna hijau dan licin, sedangkan batang pohonnya berwarna hijau tembelek (hijau agak kecoklatan) dan permukaan kulitnya kasar serta berkerut-kerut. Daun sirih disamping untuk keperluan ramuan obat-obatan juga masih sering digunakan oleh ibu-ibu generasi tua untuk kelengkapan ‘nginang’ (Jawa). Biasanya kelengkapan untuk ‘nginang’ tersebut adalah daun sirih, kapur sirih, pinang, gambir, dan kapulaga (Iptek, 2011).

    Sirih merupakan salah satu jenis tumbuhan dari famili Piperaceae yang telah dikenal luas sehingga mempunyai beberapa nama daerah, diantaranya : sireh, suruh (Jawa). Pemanfaatan sirih yang paling umum adalah sebagai bahan untuk sirih pinang. Bagian tumbuhan sirih untuk bahan sirih pinang adalah daun (umumnya di Indonesia bagian barat) dan buah (umumnya di Indonesia bagian timur). Penggunaan buah untuk acara penyambutan tamu baik diacara resmi atau kekeluargaan dari rumah kerumah. Bahkan hampir tiap-tiap orang asli bukan pendatang masing-masing membawa atau mempersiapkan sirih pinang dalam sebuah kantong untuk keperluan bersilahturahmi antar teman maupun saudara baik pria maupun wanita. Budaya sirih pinang ini juga dijumpai di NTT maupun di Maluku. Pasti ada manfaat ilmiah yang perlu dicari kebenaran faktanya dan bukan sekedar budaya atau kearifan lokal. Tumbuhan dari Genus Piper, seperti Piper nigrum, P. methysticum, P. auritum dan P. betle telah dikenal sejak lama sebagai komoditi pertanian untuk rempah, isektisida pada lahan pertanian dan bahan obat-obatan dengan nilai ekonomi yang tinggi. Beberapa penelitian melaporkan bahwa jamu tradisional yang menggunakan serbuk daun sirih/ Piper betle dan cabe jawa /Piper retrofractum sebagai salah satu penyusunnya mempunyai tingkat kontaminasi bakteri yang sangat rendah. Hal ini disebabkan karena adanya sifat antibakteri dan anti jamur dari daun sirih dan buah cabe jawa. Telah dilaporkan bahwa minyak atsiri yang terkandung dalam daun sirih dan buah cabe jawa berperan dalam aktifitas sebagai antibakteri dan antiseptic. Aktivitas tersebut disebabkan adanya kandungan senyawa fenolik bermolekul rendah ( Rachmat, 2000).

    Secara tradisional, tumbuhan genus Piper memperlihatkan khasiat dan kegunaan yang unik dan menarik. Buah P. longum biasa digunakan untuk mengobati kejang usus. Tumbuhan wati atau P. methysticum dapat memberikan efek narkotik dan bersifat sedatif yang merupakan tradisi adat pada beberapa suku di Propinsi Papua. Piper aduncum, secara tradisional dimanfaatkan sebagai obat sakit perut, kencing nanah dan penolak serangga. Secara in-vitro, ekstrak kasar petroleum eter dari P. aduncum telah dibuktikan mempunyai aktivitas yang kuat sebagai molusisida melawan Biomphalaria glabrata. Ekstrak ini juga memperlihatkan aktivitas yang signifikan sebagai antibakteri melawan Bacillus subtilis, Micricoccus luteus dan Escherichia coli. Ekstrak etanol dan senyawa murni piperina dari P. longum mampu mengobati 90% dan 40% berturut-turut tikus yang terjangkit caesal amoebiasis (Ghosal, et al., 1996).

    Sejauh ini, baru sekitar 112 jenis tumbuhan (sekitar 10%) dari Genus Piper yang telah diinvestigasi komponen kimianya yang meliputi 667 senyawa kimia yang berbeda yang terdiri dari 190 alkaloid, 49 lignan, 70 neolignan, 97 terpena, 15 steroid, 18 kavapirona, 17 calkon, 16 flavona, 6 flavanona, 4 piperolida dan 146 golongan senyawa lainnya. Umumnya bagian tumbuhan yang digunakan untuk pengobatan adalah daun atau buah.Daun sirih telah dimanfaatkan dalam berbagai ramuan obat tradisional (Perry, 1980).

    Daunnya juga telah dilaporkan mempunyai sifat antitumor .  Ekstrak daun sirih digunakan untuk berkumur, membersihkan pernafasan, menghentikan pendarahan pada gigi yang dicabut. Rebusan daun sirih yang ditambah gula dapat dimanfaatkan sebagai obat batuk. Daunnya dapat digunakan sebagai obat batuk, obat cacing, dan antiseptik pada luka. Daun yang dipanaskan kemudian ditempelkan di dada untuk mengobati batuk dan asma (Teo dan Banka, 2000).

    Daun Piper betle mengandung minyak atsiri 0.1-1.8 %. Senyawa kimia yang terdapat pada minyak atsiri Piper betle adalah fenol (eugenol, chavicol, estragol) dan chavibetol (Teo dan Banka, 2000), alkaloid arakene, terpen dan seskuiterpen. Daun muda mempunyai kadar minyak atsiri lebih tinggi dari daun tua. Chavicol sebagai komponen kmia utama pada minyak atsiri sirih bertanggung jawab terhadap bau khas pada sirih dan bersifat antibakteri kuat yaitu 5 kali dari fenol. Ekstrak daun dan minyak atsiri mempunyai aktivitas sebagai antibakteri dan antifungi. Minyak atriri mempunyai sifat sebagai antelminthic (obat cacing). Menurut Andria pada tahun 2000 melaporkan bahwa komposisi minyak atsiri daun (kering angin) Piper aduncum L. Mengandung sekitar 1 % minyak atsiri dengan komposisi: 20 macam senyawa, Piper amboinensis (Miq) D.C. komposisi minyak atsiri bagian atas tumbuhan (kering angin) mengandung sekitar 0.6 % minyak atsiri dengan komposisi: 9 macam senyawa. Sedangkan Piper methysticum Forst. komposisi minyak atsiri bagian atas tumbuhan (kering angin) mengandung sekitar 0.7 % minyak atsiri dengan komposisi: 14 macam senyawa.

    Buah sirih mengandung minyak atsiri, lemak dan asam lemak, emodol, tanin, gula pereduksi, antrasenoid, poiluronida, glukosida dan glikosida steroid. Minyak atsiri Piper betle telah diketahui bersifat bioaktif yaitu mempunyai aktivitas antelmintic terhadap cacing pita. Tyler et al.(1988) menyatakan bahwa tanin dapat digunakan untuk mengatasi hemoroid sedang antrasenoid yang bersifat pencahar digunakan untuk mengatasi masalah konstipasi. Saponin, tannin dan flavonoid merupakan zat antibakteri yang berasal dari tumbuh-tumbuhan (Wolf, 1969).

     

    DAFTAR PUSTAKA

    Ghosal S, Prasad BN, and Lakshmi. 1996Antiamoebic Activity of Piper longum Fruits Against Entamoeba histolytica in vitro and in vivo. J. Ethnopharmacol 50(3), 167-70.

    Iptek. 2011. Tanaman Obat. http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php?mnu=2&id=6. Diakses tanggal 20 Oktober 2011.

    Perry LM and J Metzger. 1980. Medicinal Plants of East and SouthEast Asia. Attributed Properties and Uses. The MIT Press. London.Rachmat, 2000).

    Teo SP and Banka RA. 2000. Piper betle L. In : Plant Resources of South-East Asia 16. Backhuys Publishers. Netherlands.

    Wolf F.A, and Wolf, F.T.1969. The Fungi Vol.II. Hafner Publishing Company. New York.

    By pernik desa

    Sebuah Blog yang mengabarkan apapun yang berguna dan bermanfaat

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.