Thu. Nov 24th, 2022

    Pengertian Bisa

    Bisa, venom, atau zootoksin (secara harfiah “racun hewan”) adalah semua jenis toksin yang yang digunakan oleh beberapa kelompok spesies hewan, untuk keperluan pertahanan dan berburu mangsa. Bisa dibedakan dengan racun dengan definisi bahwa bisa adalah toksin biologis yang disuntikkan untuk menimbulkan efeknya, sedangkan racun adalah toksin biologis yang diserap melalui lapisan epitel (baik dari usus maupun melalui kulit). Hewan-hewan yang memiliki bisa antara lain adalah ular, laba-laba, kalajengking, dan lebah. Bisa ular umumnya mengandung fosfolipase A2, sejenis enzim yang memicu proses lisis pada senyawa fosfolipid, sehingga bersifat toksik terhadap membran sel.

    Bisa adalah suatu zat atau substansi yang berfungsi untuk melumpuhkan mangsa dan sekaligus juga berperan pada sistem pertahanan diri. Bisa tersebut merupakan ludah yang termodifikasi, yang dihasilkan oleh kelenjar khusus. Kelenjar yang mengeluarkan bisa merupakan suatu modifikasi kelenjar ludah parotid yang terletak di setiap bagian bawah sisi kepala di belakang mata. Dalam paper ini kami akan menjelaskan tentang bisa ular. Bisa ular tidak hanya terdiri atas satu substansi tunggal, tetapi merupakan campuran kompleks, terutama protein, yang memiliki aktivitas enzimatik. Bisa ular dapat mengakibatkan orang meninggal oleh karena bisa ular yang bersifat hematotoksik, neurotoksik atau histaminic.

     

    Kategori bisa ular

    Bisa ular secara garis besar dapat kita kategorikan dalam dua jenis, yaitu neurotoxin dan hemotoxin. Neurotoxin adalah racun yang melumpuhkan sistem pernafasan dan merusak otak korban. Adapun hemotoxin adalah racun yang merusak sel-sel hingga darah menggumpal dan berujung pada kematian. Bisa ular juga mengandung berbagai enzim berbahaya, namun bisa pula sangat berguna. Sedikitnya terdapat 20 jenis enzim pada bisa ular. Komposisi masing-masing enzim berbeda-beda, tergantung jenis ularnya. Salah satu enzim yang terdapat dalam bisa ular adalah proteinase. Gigitan ular yang mengeluarkan bisa yang mengandung proteinase akan menyebabkan jaringan kulit dan otot si korban mati secara cepat. Tapi, menurut sebuah penelitian di Australia, dalam dosis tertentu enzim proteinase dapat mengobati kanker. Enzim lain yang cukup populer ada pada bisa ular adalah cholin esterase. Enzim ini biasanya menyerang sistem saraf dan membuat otot menjadi kendur. Enzim cholin esterase dapat digunakan untuk mencegah serangan jantung dan stroke.

    Racun

    Racun adalah zat atau senyawa yang masuk ke dalam tubuh dengan berbagai cara yang menghambat respons pada sistem biologis dan dapat menyebabkan gangguan kesehatan, penyakit, bahkan kematian. Keracunan sering dihubungkan dengan pangan atau bahan kimia. Pada kenyataannya bukan hanya pangan atau bahan kimia saja yang dapat menyebabkan keracunan. Di sekeliling kita ada racun alam yang terdapat pada beberapa tumbuhan dan hewan. Salah satunya adalah gigitan ular berbisa yang sering terjadi di daerah tropis dan subtropis. Mengingat masih sering terjadi keracunan akibat gigitan ular maka untuk dapat menambah pengetahuan masyarakat kami menyampaikan informasi mengenai bahaya dan pertolongan terhadap gigitan ular berbisa. Ular merupakan jenis hewan melata yang banyak terdapat di Indonesia. Spesies ular dapat dibedakan atas ular berbisa dan ular tidak berbisa. Ular berbisa memiliki sepasang taring pada bagian rahang atas. Pada taring tersebut terdapat saluran bisa untuk menginjeksikan bisa ke dalam tubuh mangsanya secara subkutan atau intramuskular.

     

    Penelitian Tentang Bisa Ular

    Norbert Zimmermann, seorang ahli pengobatan dari Bottrop Jerman, melakukan riset terhadap bisa ular untuk mengobati alergi. Caranya, memasukkan alergen yang ada dalam bisa ular ke dalam tubuh pasien secara bertahap dalam dosis ringan. Lalu, dosisnya akan terus dinaikkan hingga tubuh pasien menciptakan kekebalan atau antibodi terhadap zat berbahaya yang masuk ke dalam tubuhnya. Cara ini akan meningkatkan kekebalan dalam tubuh. Di Indonesia, belum ada penelitian tentang manfaat serum atau organ ular lainnya bagi pengobatan. Sejauh ini, maraknya pengobatan dengan menggunakan organ ular lebih kepada pengalaman saja. Misalnya, pengobatan yang dilakukan sinse Robert yang buka praktek di Yogyakarta. Sejak umur 8 tahun, dia sudah hidup beradaptasi dengan ular. Sepanjang pengalamannya, ia mengetahui empedu ular kobra punya banyak kegunaan. “Misalnya meredakan panas, membuat kulit menjadi bagus, jantung menjadi kuat, paru-paru menjadi bagus,” ujarnya. Prinsip pengobatan memakai organ ular adalah melawan penyakit dengan menggunakan zat berbahaya. Tapi ada juga yang berpendaat lain. Salah satunya, William Adi Teja, ahli pengobatan di Oetomo Chinese Medical Centre. Menurut master dari Beijing University of Chinese Medicine itu, dalam teori Chinese Medicine, penyakit berbahaya memang bisa disembuhkan dengan racun. “Tetapi jangan ditelan mentah-mentah. Bagaimana racun berbahaya itu diramu sehingga menjadi obat, dan berapa dosisnya, itu yang belum diketahui secara pasti ilmunya,” ujarnya.

    Penatalaksanaan Keracunan akibat Gigitan Ular Berbisa

    Efek toksik bisa ular pada saat menggigit mangsanya tergantung pada spesies, ukuran ular, jenis kelamin, usia, dan efisiensi mekanik gigitan (apakah hanya satu atau kedua taring menusuk kulit), serta banyaknya serangan yang terjadi.

    Ular berbisa kebanyakan termasuk dalam famili Colubridae, tetapi pada umumnya bisa yang dihasilkannya bersifat lemah. Contoh ular yang termasuk famili ini adalah ular sapi (Zaocys carinatus), ular tali (Dendrelaphis pictus), ular tikus atau ular jali (Ptyas korros), dan ular serasah (Sibynophis geminatus). Ular berbisa kuat yang terdapat di Indonesia biasanya masuk dalam famili Elapidae, Hydropiidae, atau Viperidae. Elapidae memiliki taring pendek dan tegak permanen. Beberapa contoh anggota famili ini adalah ular cabai (Maticora intestinalis), ular weling (Bungarus candidus), ular sendok (Naja sumatrana), dan ular king kobra (Ophiophagus hannah). Viperidae memiliki taring panjang yang secara normal dapat dilipat ke bagian rahang atas, tetapi dapat ditegakkan bila sedang menyerang mangsanya. Ada dua subfamili pada Viperidae, yaitu Viperinae dan Crotalinae. Crotalinae memiliki organ untuk mendeteksi mangsa berdarah panas (pit organ), yang terletak di antara lubang hidung dan mata. Beberapa contoh Viperidae adalah ular bandotan (Vipera russelli), ular tanah

    (Calloselasma rhodostoma), dan ular bangkai laut (Trimeresurus albolabris).

     

     

    Gambar 1. Organ pendeteksi panas (pit organ) pada Crotalinae terletak di antara lubang hidung dan mata.

    Bagaimanakah Gigitan Ular Dapat Terjadi?

    Korban gigitan ular terutama adalah petani, pekerja perkebunan, nelayan, pawang ular, pemburu, dan penangkap ular. Kebanyakan gigitan ular terjadi ketika orang tidak mengenakan alas kaki atau hanya memakai sandal dan menginjak ular secara tidak sengaja. Gigitan ular juga dapat terjadi pada penghuni rumah, ketika ular memasuki rumah untuk mencari mangsa berupa ular lain, cicak, katak, atau tikus.

    Bagaimana Mengenali Ular Berbisa?

    Tidak ada cara sederhana untuk mengidentifikasi ular berbisa. Beberapa spesies ular tidak berbisa dapat tampak menyerupai ular berbisa. Namun, beberapa ular berbisa dapat dikenali melalui ukuran, bentuk, warna, kebiasaan dan suara yang dikeluarkan saat merasa terancam. Beberapa ciri ular berbisa adalah bentuk kepala segitiga, ukuran gigi taring kecil, dan pada luka bekas gigitan terdapat bekas taring.

     

    Gambar 2. Bekas gigitanan ular. (A) Ular tidak berbisa tanpa bekas taring, (B) Ular berbisa

    dengan bekas taring

    Sifat Bisa, Gejala, dan Tanda Gigitan Ular

    Berdasarkan sifatnya pada tubuh mangsa, bisa ular dapat dibedakan menjadi bisa hemotoksik, yaitu bisa yang mempengaruhi jantung dan sistem pembuluh darah; bisa neurotoksik, yaitu bisa yang mempengaruhi sistem saraf dan otak; dan bisa sitotoksik, yaitu bisa yang hanya bekerja pada lokasi gigitan. Tidak semua ular berbisa pada waktu menggigit menginjeksikan bisa pada korbannya. Orang yang digigit ular, meskipun tidak ada bisa yang diinjeksikan ke tubuhnya dapat menjadi panik, nafas menjadi cepat, tangan dan kaki menjadi kaku, dan kepala menjadi pening. Gejala dan tanda-tanda gigitan ular akan bervariasi sesuai spesies ular yang menggigit dan banyaknya bisa yang diinjeksikan pada korban. Gejala dan tanda-tanda tersebut antara lain adalah tanda gigitan taring (fang marks), nyeri lokal, pendarahan lokal, memar, pembengkakan kelenjar getah bening, radang, melepuh, infeksi lokal, dan nekrosis jaringan (terutama akibat gigitan ular dari famili Viperidae).

    Penatalaksanaan Keracunan Akibat Gigitan Ular

    Langkah-langkah yang harus diikuti pada penatalaksanaan gigitan ular adalah:

    1. Pertolongan pertama, harus dilaksanakan secepatnya setelah terjadi gigitan ular sebelum korban dibawa ke rumah sakit. Hal ini dapat dilakukan oleh korban sendiri atau orang lain yang ada di tempat kejadian. Tujuan pertolongan pertama adalah untuk menghambat penyerapan bisa, mempertahankan hidup korban dan menghindari komplikasi sebelum mendapatkan perawatan medis di rumah sakit serta mengawasi gejala dini yang membahayakan. Kemudian segera bawa korban ke tempat perawatan medis.

    Metode pertolongan yang dilakukan adalah menenangkan korban yang cemas; imobilisasi (membuat tidak bergerak) bagian tubuh yang tergigit dengan cara mengikat atau menyangga dengan kayu agar tidak terjadi kontraksi otot, karena pergerakan atau kontraksi otot dapat meningkatkan penyerapan bisa ke dalam aliran darah dan getah bening; pertimbangkan pressure-immobilisation pada gigitan Elapidae; hindari gangguan terhadap luka gigitan karena dapat meningkatkan penyerapan bisa dan menimbulkan pendarahan lokal.

    1. Korban harus segera dibawa ke rumah sakit secepatnya, dengan cara yang aman dan senyaman mungkin. Hindari pergerakan atau kontraksi otot untuk mencegah peningkatan penyerapan bisa.
    2. Pengobatan gigitan ular

    Pada umumnya terjadi salah pengertian mengenai pengelolaan gigitan ular. Metode penggunaan torniket (diikat dengan keras sehingga menghambat peredaran darah), insisi (pengirisan dengan alat tajam), pengisapan tempat gigitan, pendinginan daerah yang digigit, pemberian antihistamin dan kortikosteroid harus dihindari karena tidak terbukti manfaatnya.

    1. Terapi yang dianjurkan meliputi:

    • Bersihkan bagian yang terluka dengan cairan faal atau air steril.

     

    Gambar 3. Imobilisasi bagian tubuh menggunakan perban.

    • Untuk efek lokal dianjurkan imobilisasi menggunakan perban katun elastis dengan

    lebar + 10 cm, panjang 45 m, yang dibalutkan kuat di sekeliling bagian tubuh yang tergigit, mulai dari ujung jari kaki sampai bagian yang terdekat dengan gigitan. Bungkus rapat dengan perban seperti membungkus kaki yang terkilir, tetapi ikatan jangan terlalu kencang agar aliran darah tidak terganggu. Penggunaan torniket tidak dianjurkan karena dapat mengganggu aliran darah dan pelepasan torniket dapat menyebabkan efek sistemik yang lebih berat.

    • Pemberian tindakan pendukung berupa stabilisasi yang meliputi penatalaksanaan jalan nafas; penatalaksanaan fungsi pernafasan; penatalaksanaan sirkulasi; penatalaksanaan resusitasi perlu dilaksanakan bila kondisi klinis korban berupa hipotensi berat dan shock, shock perdarahan, kelumpuhan saraf pernafasan, kondisi yang tiba-tiba memburuk akibat terlepasnya penekanan perban, hiperkalaemia akibat rusaknya otot rangka, serta kerusakan ginjal dan komplikasi nekrosis lokal.
    • Pemberian suntikan antitetanus, atau bila korban pernah mendapatkan toksoid maka diberikan satu dosis toksoid tetanus.
    • Pemberian suntikan penisilin kristal sebanyak 2 juta unit secara intramuskular.
    • Pemberian sedasi atau analgesik untuk menghilangkan rasa takut cepat mati/panik.
    • Pemberian serum antibisa. Karena bisa ular sebagian besar terdiri atas protein, maka sifatnya adalah antigenik sehingga dapat dibuat dari serum kuda. Di Indonesia, antibisa bersifat polivalen, yang mengandung antibodi terhadap beberapa bisa ular. Serum antibisa ini hanya diindikasikan bila terdapat kerusakan jaringan lokal yang luas.

    Penanganan Terhadap Gigitan Ular

    Tindakan Pertama pada Gigitan Ular
    1.    Luka dicuci dengan air bersih atau dengan larutan kalium permanganat untuk menghilangkan atau menetralisir bisa ular yang belum teradsorpsi.
    2.    Insisi atau eksisi luka tidak dianjurkan, kecuali apabila gigitan ular baru terjadi beberapa menit sebelumnya.
    Insisi luka yang dilakukan dalam keadaan tergesa-gesa atau dilakukan  oleh orang yang tidak berpengalaman, justru sering merusak jaringan di bawah kulit dan akan meninggalkan parut luka yang cukup besar.
    3.    Anggota badan yang digigit secepatnya diikat untuk menghambat penyebaran racun.
    4.    Lakukan kemudian imobilisasi anggota badan yang digigit dengan cara memasang bidai karena gerakan otot dapat mempercepat penyebaran racun.
    5.    Bila mungkin anggota badan yang digigit didinginkan dengan es batu.
    6.    Penderita dilarang bergerak dan apabila perlu dapat diberi analgetika atau sedativa.
    7.    Penderita secepatnya harus dibawa ke dokter atau rumah sakit yang terdekat untuk menerima perawatan selanjutnya.

     

    Ada beberapa cara untuk mengobati gigitan ular, tergantung tingkat parah atau tidaknyagigitan.

    1,  Ambil sesendok minyak tanah dan sesendok minyak goreng, lantas suruh korban meminumnya. Minyak tanah dan minyak goreng berfungsi untuk menjadi tameng bagi jantung dan organ-organ penting dalam tubuh dari serangan racun bisa ular. Racun bisa tidak akan mampu menyerang jika tubuh diberi kedua cairan tersebut.

    2. Ambil segenggam garam dan masukkan ke dalam air dalam sebuah gelas besar. Aduk air garam tersebut secukupnya. Buang ampas garam yang mengendap di dasar gelas. Terus air garam tersebut diminumkan kepada sang korban. Seperti halnya minyak tanah dan minyak goreng, air garam juga berfungsi sebagai anti toxin yang bisa melindungi jantung dan organ vital dari serangan racun bisa ular.

    3. Jika korban digigit pada jam-jam berbahaya yang sudah dijelaskan di atas, maka cara yang cukup ampuh adalah dengan cara setrum. Dengan menggunakan accu kecil yang tidak berdaya listrik tinggi, tempelkan saja kabel negatif (-) dan positif (+) ke bekas gigitan. Awas, jangan sampai daerah yang bukan gigitan ikut tersetrum. Saat proses setrum berlangsung dan racun bisa disedot oleh listrik, sang korban tidak akan mengalami rasa sakit, paling akan merasa sedikit hangat. Jika bisa sudah habis disedot oleh listrik, korban pun akan merasa kesakitan. Saat itulah, proses setrum dihentikan segera agar tidak membahayakan korban.

    4. Jika gigitan sudah terjadi lama dan sudah menimbulkan borok, maka cara yang digunakan adalah dengan proses pembakaran. Ambil tanah liat basah dan tempelkan ke daerah sekeliling bekas gigitan. Hal ini untuk melindungi daerah yang tidak terkena gigitan ular. Jika sekeliling daerah gigitan sudah terlindungi oleh tanah liat, baru kemudian dilakukan proses pembakaran. Ambil bara api secukupnya dan letakkan ke daerah gigitan. Jika bara api padam, nyalakan kembali. Saat racun bisa belum tuntas disedot oleh api, korban tidak akan mengalami rasa sakit atau panas. Namun jika sudah mulai terasa proses penyedotan berlangsung, korban akan mulai mengalami rasa hangat. Ketika racun bisa sudah habis tersedot, korban pun akan langsung merasa kepanasan. Saat itulah, proses pembakaran dihentikan.

    Terkadang cara pembakaran ini harus memakan waktu dua hari. Hal itu terjadi karena gigitan yang sudah cukup lama, sehingga proses penyedotan tidak langsung selesai satu kali. Jadi, hari pertama dilakukan proses pembakaran. Keesokan harinya, hal pembakaran dilakukan kembali, sampai pasien betul-betul merasakan sakit sebagai pertanda bahwa racun bisa sudah habis tuntas disedot.

     

    Penanganan Terhadap Berbagai Macam Bisa Ular

    Penanganan gigitan ular berbisa menengah

    Akan mengakibatkan pembengkakan pada daerah sekitar luka, perubahan warna, dan jika kondisi tubuh tidak fit, akan terasa demam panas – dingin sekitar 2 s.d. 7 hari.

    – Lepaskan pembalut

    – Cuci luka dengan pembersih luka yang ada (revanol)

    – Beri antiseptik

    – Jika perlu, tutup luka dengan kain kassa atau biarkan tetap terbuka agar cepat kering

    – Usahakan korban beristirahat sebentar

    – Beri makanan atau minuman berkalori dan berprotein tinggi

    – Beri vitamin tambahan

    Bila tergigit ular jenis raksasa, ular pyhton

    Mengakibatkan pendarahan terbuka dan luka sobek.

    – Posisikan bagian luka di atas dari posisi jantung untuk mencegah pendarahan, lebih baik dalam posisi berbaring

    – Hentikan Pendarahan ! dengan melakukan prosedur penanganan pendarahan terbuka atau dapat pula dengan teknik torniquet.

    – Istirahatkan dan tenangkan korban

    – Upayakan untuk evakuasi ke rumah sakit dengan tetap memperhatikan pendarahan agar tidak terbuka lagi.

    – Beri makanan atau minuman berkalori dan berprotein tinggi

    – Beri vitamin tambahan

    – ular ini tidak beracun tetapi akan tetap berbahaya jika korban kehilangan banyak darah.

    – saat melepas gigitan dari korban, jangan paksakan dengan menarik kepala ular, tapi mulut harus dibuka ! Perhatikan juga belitan ular.

    Bila tergigit ular yang berbisa tinggi

    Efeknya berbeda beda sesuai jenis racun yang terkandung di dalam bisa ular.

    Efek gigitan pada umumnya :

    – Pembengkakan pada luka, diikuti perubahan warna

    – Rasa sakit di seluruh persendian tubuh

    – Mulut terasa kering

    – Pusing, mata berkunang – kunang

    – Demam, menggigil

    o Efek lanjutan akan muntah, lambung dan liver (hati) terasa sakit, pinggang terasa pegal, akibat dari usaha ginjal membersihkan darah.

    Penanganan jika tergigit dengan efek di atas:

    – Posisikan bagian yang terluka lebih rendah dari posisi jantung

    – Ikat diatas luka sampai berkerut. Setiap 10 menit, kendorkan 1 menit

    – Buat luka baru deagn kedalam sekitar 1 cm dengan pisau, cutter, silet (yang disterilkan atau tidak, tergantung situasi). Buat luka pada mulai dari bagian atas, melalui lubang luka akibat taring. INGAT ! irisan luka baru jangan horisontal tetapi vertikal.

    – Keluarkan darah sebanyak mungkin dengan cara mengurut kearah luka baru. korban akan terasa sangat kesakitan, sehingga perlu dilakukan dengan hati – hati tetapi tetap berlanjut. Saat mengurut, ikatan dapat dikendorkan. Upaya pengeluaran dapat dibantu dengan alat khusus “snake bite”, alat suntik (tanpa jarum), batang muda pohon pisang, teknik menggunakan tali senar, dan lain lain.

    Tidak dianjurkan melakukan proses pengeluaran darah dan racun dengan menyedot melalui mulut. Karena itu sangat beresiko pada si penolong karena racun dapat mengkontaminasi mulut, gigi, gusi bahkan tertelan hingga lambung dan usus.

    – Proses itu dilakukan berulang –ulang hingga darah berwarna merah kehitaman dan berbuih keluar semua dan berganti dengan darah berwarna merah segar.

    – Evakuasi korban. Bawa ke ahli ular untuk penanganan pengeluaran bisa ular lebih lanjut atau dapat pula dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan suntikan antivenom yang tepat. Usahakan mendapatkan antivenom monovalen sesuai karakter bisa ular yang menggigit (haemotoxin atau neurotoxin)

    – Informasikan pada dokter bila korban elergi terhadap obat tertentu, identifikasi.

    – Perawatan merupakan hal yang penting. Usahakan untuk selalu berkonsultasi agar luka cepat kering.

    Tidak semua efek gigitan berbisa tinggi seperti diatas. Jika yang diserang hanya syaraf, maka tidak terjadi pembangkakan, demam, pusing, muntah dll. Penanganan gigitan ular welang, ular weling, ular laut, ular pudak seruni membutuhkan teknik khusus karena spesifikasi racunnya berbeda.

    – Jangan beri minuman beralkohol

    – Korban tetap berusaha untuk sadar

    – Berikan semua jenis makanan dan minuman yang bergizi

    – Jangan bergerak berlebihan, istirahat yang cukup

    – Jika perlu, segera evakuasi ke rumah sakit

    Sebelum dibawa ke rumah sakit :

    • Tenangkan korban
    • Jika mungkin, dapatkan ular yang mati (kepala ular yang sudah dipisahkan dari tubuhnya masih dapat menimbulkan intoksikasi dari bia selama 60 menit)
    • Imobilisasi ekstremitas yang digigit
    • Angkut korban kerumah sakit terdekat

    Turniket serta sabuk pengikat akan mempengaruhi perkiraan tentang intensitas intoksikasi dan tidak boleh digunakan.

    Di rumah sakit : tentukan intensitas intoksikasi dan preparat antibisa ular yang diperlukan.

    • Tingkat 0 : tidak diperlukan antibisa ular, dilakukan perawatan luka lokal; imunisasi tetanus merupakan indikasi; lakukan observasi di UGD paling sedikit selama 4 jam
    • Tingkat 1 : diperlukan pemberian antibisa ular 2-5 vial (20-50 ml) dan antihistamin
    • Tingkat 2 : diperlukan pemberian antibisa ular sebanyak 6-10 vial (60-100 ml)
    • Tingkat 3 : diperlukan pemberian antibisa ular sebanyak 10-15 vial (100-1500 ml)
    • Tingkat 4 : diperlukan pemberian antibisa ular lebih dari 15 vial (> 1500 ml)

    Perawatan suportif diberikan menurut indikasi untuk menjaga fungsi sistem sirkulasi, sistem respiratori, sistem saraf pusat dan fungsi hematologi. Infeksi sekunder pada luka gigitan dicegah dengan memberikan antibiotik berspektrum-luas, seperti sefalosporin atau dikloksasilin. Ekstremitas yang terkena gigitan ular harus dibiarkan dalam keadaan agak tergantung sampai diberikannya antibisa ular dan kemudian ekstremitas itu ditinggikan. Tindakan debridemen luka lepuh atau vesikel yang hemoragik dan jaringan nekrotik superfisial dapat dimulai setelah hari ke-3 hingga hari ke-5 dan sebelum hari ke-7. Pencangkokan kulit dapat dipertimbangkan. Fasiotomi mungkin diperlukan untuk mencegah sindrom kompartemen.

    • Pengobatan segera

    Penatalaksanaan segera yang terbaik setelah gigitan ular adalah kompres dingin pada daerah gigitan dan penempatan torniket yang rapat di antara tempat gigitan dan jantung. Torniket harus cukup kencang hanya untuk mencegah penyebaran bisa dan tidak sampai menghentikan sirkulasi arteri.

    • Pengobatan lanjutan

    Apakah torniket dipakai atau tidak, insisi longitudinal harus dilakukan melewati tanda taring dan hanya pada kulit. Kemudian dilakukan pengisapan. Terbaik penggunaan alat penghisap seperti mangkok karet atau alat suntik yang telah dipotong. Mulut dapat digunakan bila tak ada luka terbuka, tetapi ia sangat meningkatkan bahaya infeksi. Kadang-kadang dianjurkan eksisi lokal langsung pada daerah gigitan dengan penutupan luka primer. Pada keadaan ini perlu transpor ke rumah sakit.

    Serum Anti Bisa Ular

    Anti bisa ular terdapat dalam 2 sediaan, monovalen (efektif terhadap racun spesies ular tertentu) dan polyvalent (efektif terhadap beberapa spesies ular). Anti bisa ular sudah dimurnikan dengan beberapa proses namun masih mengandung protein serum yang dapat bertindak sebagai antigen, sehingga beberapa individu dapat bereaksi terhadap anti bisa ular dengan reaksi hipersensitivitas cepat (anafilaksis) atau hipersensitivitas lambat (serum sickness). Meskipun demikian, anti bisa ular harus tetap diberikan pada pasien gigitan ular yang mengancam jiwa, efek samping dapat ditangani setelah efek bisa ular dinetralkan.

     

    Anti bisa ular diberikan ketika seorang pasien terbukti atau diduga telah digigit ular dengan satu atau lebih tanda berikut ini :

    • Keracunan sistemik
    • Kelainan hemostatik seperti : perdarahan sistemik spontan (klinis), koagulopati atau trombositopenia (laboratoris).
    • Tanda neurotoxik : ptosis, opthalmoplegia eksternal, paralisis, dll.
    • Kelainan kardiovaskular : hipotensi, syok, aritmia kordis (klinis), kelainan EKG.
    • Gagal ginjal : oliguria/anuria (klinis), peningkatan ureum / kreatinin dalam darah (laboratoris).
    • Hemoglobin/mioglobin-uria : dark brown urine (klinis), urin dipstik, bukti lain adanya hemolisis intravaskular atau generalised rhabdomyolisis (nyeri otot, hiperkalemia)
    • Keracunan lokal
    • Bengkak pada lebih dari separuh anggota tubuh yang digigit ular dalam waktu 48 jam setelah digigit (tanpa dipasang torniket). Bengkak setelah gigitan pada jari.
    • Bengkak yang terjadi dengan cepat (contohnya : bengkak sudah melampaui pergelangan tangan atau kaki dalam beberapa jam setelah digigit ular pada tangan atau kaki).
    • Adanya pembesaran limphonodi disekitar anggota tubuh yang digigit ular.

    Anti bisa ular harus diberikan secepatnya setelah gejala atau tanda diatas ditemukan. Anti bisa ular akan menetralkan efek bisa ular walaupun gigitan ular sudah terjadi beberapa hari yang lalu atau pada kasus kelainan hemostatik, anti bisa ular masih dapat diberikan walaupun sudah terjadi lebih dari 2 minggu. Tetapi beberapa bukti klinis menyebutkan bahwa anti bisa ular efektif jika diberikan dalam beberapa jam setelah digigit ular.

    Lebih dari 10% pasien mengalami reaksi hipersensitivitas terhadap anti bisa ular, reaksinya dapat trejadi secara cepat (dalam beberapa jam) atau lambat (5 hari atau lebih). Resiko reaksi tergantung dosis yang diberikan, kecuali pada kasus yang jarang, terjadi sensitisasi (Ig E-mediated type I hypersensitivity) oleh serum hewan sebelumnya, contohnya : Ig-tetanus, Ig-rabies.

    • Reaksi Anafilaksis

    Terjadi dalam 10-180 menit setelah pemberian anti bisa ular, gejalanya gatal, urtikaria, batuk kering, demam, mual, muntah, diare dan takikardi. Sebagian kecil pasien akan mengalami reaksi anafilaksis yang berat seperti hipotensi, bronkospasme dan angioedema.

    • Reaksi Pyrogenik (endotoksin)

    Terjadi dalam 1-2 jam setelah pengobatan, gejalanya berupa demam, vasodilatasi dan penurunan tekanan darah. Reaksi ini disebabkan kontaminasi pirogen selama proses dipabrik.

    • Reaksi Lambat

    Terjadi dalam 1-12 hari setelah pengobatan, gejala klinisnya berupa demam, mual, muntah, diare, gatal, urtikaria berulang, atralgia, mialgia, limpadenopati, proteinuria dengan nephritis kompleks imun, dan encephalopati (jarang).

    Epineprin (adrenalin) diberikan intra muskular (lateral paha atas) dengan dosis awal 0,5mg untuk dewasa dan 0,01mg/kgBB untuk anak-anak. Adrenalin harus segera diberikan setelah muncul gejala, dosis dapat diulang setiap 5-10 menit jika kondisi tidak membaik.

    Pengobatan tambahan berupa antihistamin, anti-H1 blocker seperti klorphenamin maleat (dewasa 10mg, anak-anak 0,2mg/kgBB IV dalam beberapa menit) harus diberikan dengan hidrokortison (dewasa 100mg, anak-anak 2mg/kgBB). Pada reaksi pirogen dapat diberikan anti piretik (contohnya parasetamol oral atau supp). Cairan intravena harus diberikan untuk mengatasi hipovolemia.

    • Reaksi lambat (serum sickness)

    Anti histamin oral diberikan selama 5 hari, jika tidak ada respon dalam 24-48 jam berikan prednisolon selama 5 hari.

    Dosis : chlorphenamine : dewasa 2mg/6 jam, anak-anak 0,25mg/kg/hari

    Prednisolone : dewasa 5mg/6 jam, anak-anak 0,7mg/kg/hari

    Senyawa kimia immunoglobulin anti-bisa ular polovalen juga dapat mengatasi bisa ular. Vaksin pasif ini digunakan untuk mengobati gigitan ular berbisa, yang berefek neurotoksis dan hemolitis. Serum polivalen ini yang dimurnikan dan dipekatkan berasal dari plasma kuda yang dikebalkan terhadap bisa ular. Ular yang kebanyakan terdapat di Indonesia adalah ular kobra (Naya sputatrix), ular belang (Bungarus fasciatus) dan ular tanah (Ankystrodon rhodostoma). Dosis: i.v. sangat perlahan atau melalui infus (Tjay, 2007).

     

    Kesimpulan

    • Bisa, venom, atau zootoksin (secara harfiah “racun hewan”) adalah semua jenis toksin yang yang digunakan oleh beberapa kelompok spesies hewan, untuk keperluan pertahanan dan berburu mangsa.
    • Bisa ular secara garis besar dapat kita kategorikan dalam dua jenis, yaitu neurotoxin dan hemotoxin.
    • Terdapat berbagai macam cara penanganan terhadap gigitan ular dan bisa ular yang telah dijelaskan dalam papper ini.
    • Serum Anti Bisa Ular (Snake Anti Venom) merupakan produk biologis yang digunakan dalam pengobatan gigitan ular berbisa.  Anti bisa ular terdapat dalam 2 sediaan, monovalen (efektif terhadap racun spesies ular tertentu) dan polyvalent (efektif terhadap beberapa spesies ular). Anti bisa ular diberikan ketika seorang pasien terbukti atau diduga telah digigit ular dengan adanya tanda keracunan sistemik maupun lokal.

     

    DAFTAR PUSTAKA

    Tika Pratiwi,dkk, 2011, MAKALAH TOKSIKOLOGI, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Jurusan Farmasi, Universitas Jenderal Soedirman.

    Anonim, 2002, Pedoman Pertolongan Keracunan untuk Puskesmas, Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.

    Anonim, 2005, Guidelines for the Clinical Management of Snakes bites in the South-East Asia, Region, World Health Organization.

    Boswick, John A. 1988. Perawatan Gawat Darurat. EGC : Jakarta.

    http://siouxindonesia.multiply.com/journal/item/19?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

    Kathleen S. Oman, et all. 2002. Panduan Belajar Keperawatan Emergensi. EGC : Jakarta.

    Racheedus. 2010. http://racheedus.wordpress.com/2010/03/31/tips-mengobati-gigitan-ular/. Diakses tanggal 16 Desember 2011.

    Snake Venom: The Pain and Potential of Poison, The Cold Blooded News Vol. 28, Number 3, March, 2001.

    Tjay, Tan Hoan. 2007. Obat-Obat Penting Khasiat, Penggunaan dan Efek-efek Sampingnya. PT Elex Media Komputindo. Jakarta.

    Theakston RD, Warrell DA, Griffiths E (April, 2003), “Report of a WHO workshop on the standardization and control of anti venoms”. Toxicon 41(5) : 541-57.

    Warrell DA, (2010), “Guidelines for the management of snake-bites”. Indraprastha Estate, mahatma Gandhi marg. New Delhi, 77-89.

    Wijaya, Rudi. 2009. http://id.shvoong.com/medicine-and-health/alternativmedicine/1950680-manfaat-ular-dari-sudut-medis/. Diakses pada tanggal 17 Desember 2011.

    WHO, (2010), “WHO guidelines for the production control and regulation of snake anti venom immunoglobulins”. Avenue appia CH-1211 Geneva 27, Switzerland, www.who.int/bloodproducts/snakeantivenoms

    By pernik desa

    Sebuah Blog yang mengabarkan apapun yang berguna dan bermanfaat

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *